Ibnu Jarir Ath-Thabari

Adalah kitab tafsir Al-Qur’an paling lengkap, paling tua, dan paling populer di kalangan ulama dan pencari ilmu. Ditulis oleh Imam Muhammad (Abu Ja’far) bin Jarir ath-Thabari (838 – 923 M), ulama asal Tabaristan (Persia). Karya ini aslinya berjudul Jami al-bayan an ta’wil ay al-Qur’an, namun lebih populer sebagai Tafsir Ath-Thabari.

Tafsir ini sangat panjang, awalnya terdiri dari 30 juz besar. Namun kemudian di edit ulang oleh penulisnya (ath-Thabari), dimana seluruhnya membutuhkan 3000 lembar kertas. Ini sekaligus menunjukkan keluasan ilmu sang mufassir. Maka tidaklah heran bila kitab ini menjadi rujukan utama kalangan ahli tafsir kemudian, seperti Imam Ibnu Katsir, Imam as-Suyuthi dan al-Baghawi.

Tafsir Ath-Thabari memuat istinbath (pengambilan hukum), menyampaikan perbedaan pendapat yang ada di kalangan ulama, dan memilih pendapat mana yang lebih kuat di antara pendapat-pendapat itu dengan sisi pandang yang didasarkan kepada logika dan pembahasan nash ilmiah yang teliti.

Imam Suyuthi dalam Al-Itqan mengatakan, “Ia adalah tafsir yang paling baik dan besar, memuat pendapat-pendapat para ulama, dan sekaligus menguatkan pendapat-pendapat itu, dan memuat uraian nahwu serta istinbath hukum. Dengan kelebihannya itu, ia menempati kualitas teratas dari kitab-kitab tafsir sebelumnya.”

Sedang Imam an-Nawawi berkata, “Umat Islam sepakat bahwa tidak ada seorang pun yang menulis tafsir sekaliber Tafsir Ath-Thabari.”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkomentar, “Adapun dari tafsir-tafsir yang ada di tangan manusia, yang paling baik adalah tafsir Ibnu Jarir Ath-Thabari. Ini karena ia menyebutkan ucapan-ucapan para salaf dengan sanad-sanad yang kokoh, tidak menukil kebid’ahan, dan tidak menukil dari orang-orang yang diragukan agamanya.” (Fatawa Ibnu Taimiyah, 2/192). Banyak pujian juga datang dari para ulama lainnya.

Jadi, Tafsir Ath-Thabari bisa dikatakan sebagai tafsir pertama dilihat dari waktu penulisan dan penyusunan keilmuannya. Karena kitab tesebut merupakan tafsir pertama yang sampai pada kita di saat tafsir-tafsir yang mendahuluinya telah lenyap ditelan perputaran jaman sehingga tidak sampai ke tangan kita. Adapun dilihat dari sisi penyusunan keilmuannya, maka ia tafsir yang memiliki ciri khas yang ditemukan oleh penulisnya yang kemudian ia tempuh sebagai metode tersendiri hingga ia persembahkan kepada umat manusia sebagai karya yang agung.

Dalam menafsirkan ayat-ayat, Ibnu Jarir Ath-Thabari menolak bersandar pada logika semata. Ia umumnya menuliskan riwayat-riwayat beserta sanadnya yang sampai shahabat atau tabi’in, dengan memperhatikan ijma’ Ulama dan mengindahkan perbedaan pendapat bacaan ayat-ayat. Ia juga merujuk kepada bahasa Arab asli dalam menafsirkan kata dalam satu ayat yang kurang jelas.(*).

4 Responses to “Ibnu Jarir Ath-Thabari

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *