Salim; Kebangkitan Islam dimulai dari Nusantara

Indonesia kaya akan ragam etnis dan budaya, di huni oleh penduduk muslim terbesar di dunia, serta Negara demokrasi yang menjunjung tinggi toleransi.
Seorang cendikiawan asal aljazair bernama Malik bin Nabi pernah meramalkan soal berpindahnya peradaban islam dari miwar tanja menuju mihwar (poros) asia, ramalan ini di tulis dalam bukunya Fiqratul Afrikiyah al-Asasiyah bahwa poros peradapan akan berpindah dari Arab spring (bagdad, yaman, dll) menuju ke Asia atau tepatnya mihwar jakarta.
Sementara dalam buku Syurut al-Nahdoh, Malik bin Nabi  menyebut syarat-syarat kebangkitan peradaban islam sebagai berikut:
1- al-Turab, Indonesia adalah tanah yang subur, dengan georgarifis yang sangat luas.
2-al-Insaniyah, sumber daya manusia, tercatat jumlah umat Islam  di indonesia mencapai 200 juta.
3-al-Waktu, indonesia adalah negara katulistiwa.

menurut Malik bin Nabi, ketiga syarat tersebut harus direkatkan oleh kekuatan spiritualitas (al-Qiyam Ar-ruhaniyah) dan sosial (al-Qoyyim al-Ijtima’iy), yakni disamping umat Islam Indonesia taat beragama (hablum minallah) juga harus mampu berinterakasi dalam segala level kehidupan. oleh karena itu, sublimasi nilai keislaman di bumi nusantara tidak boleh hanya di rasakan umat islam saja, namun juga di rasakan oleh segenap elemen bangsa, baik non muslim, tanah, air, udara, suku, warna kulit dan kasta sosial.

ahir ahir ini sebagian orang mengkait-kaitkan tulisan Malik bin Nabi tersebut dengan fenomena gerakan bela islam 212, semakin besarnya kwantitas penduduk muslim indonesia, rengking kekuatan meliter, kekuatan ekonomi dan sebagainya.

terlepas benar atau salah, tugas umat islam harus terus berinovasi bangkit dari keterpurukan, upaya pemerintah berbenah diri di semua sektor harus di dukung oleh kekuatan umat, negara tidak akan bisa berbuat banyak tanpa umat islam.

Hal istimewa yang tidak di miliki oleh bangsa manapun di dunia yaitu; orang indonesia tidak hanya mampu kerja dan kerja, namun memiliki spirit keagamaan (ukhuwah islamiyah),  kebangsaan (ukhuwah wathoniyah) dan ke manusiaan (ukhuwah basyariyah) untuk merajut kebersamaan.

akankah tulisan di atas betul betul menjadi tanda  kebangkitan islam atau sekedar ramalan, dan atau bahkan anekdot belaka tanpa makna?

Namun, harapan besar  terus menggema, dan tentu menjadi modal bagi generasi muda khususnya para santri bangkit memperjuangkan ideologi Ahlussnah wal Jamaah menuju nahdatul muslimin (*).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *